Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri
Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu
Saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Dering telfonku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri
Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu
Saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku selalu menunggu
Saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang ku bawa
Kemanapun ku pergi oh oh oh
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati
Dekat di hati, dekat di hati
![]() |
yaa yaaa yaaaa,,, lagu itulah yang cocok buat suasana hatiku tanggal 3 november. begitu gembiranya diri ini ketika dering telponku darimu membangunkanku. seketika aku langsung beranjak dari tempat tidur.
yaa,, kamu memang sudah bukan siapa-siapaku lagi. namun bodohnya diriku yang masih menspesialkan dirimu sampai saat itu. entah apa yang kamu rasa saat itu dan apa yang ada di fikiranmu, suddenly kamu ngomong, "aku minta maaf..!" ku coba untuk tidak merasa baper,"jangan pernah minta maaf sama aku!!!! aku benci ungkapan maafmu!! kalaupun aku memaafkanmu hari ini, toh besokkamu akan mengulanginya lagi! yaaa... memang seperti itulah kamu!"
obrolan kami semakin memanas ketika membahas hal2 yang telah lewat. yaaa... kami berdua memang terlalu munafik. secara aku yang saat it bener-bener pengen membantah omongan dia. pengen ngegampar seandainya dia ada di dekatku. namun apa yang bisa aku lakukan?? aku hanya mendengarkan apa yang di omongkannya. begitulah aku setiap kali dengan dia. tersa tak mampu untuk membalas omongannya. sampai aku benci terhadap diriku sendiri. sebegitu lemahkah diriku pada yang ku artikan cinta ini??
walaupun yang aku rasakan sakit saat bersamanya, tapi aku mengizinkan dirinya untuk tetap tinggal di hati. namanya selalu terukir saat aku makan roti yang bertuliskan susu. kebersaan yang hanya sebuah formalitas tanpa adanya kedekatan. yaa aku dan dia memang cuek. aku menafsirkan diriku mencintainya, namun aku tak pernah menghubunginya. aku hanya menunggu dia untuk menghubungiku. aku dan dia memang tak pernah menjalin komunikasi yang intend. setiap kali aku menghubunginya, ada saja hal yang di kerjakannya, sibuk dan lain sebagainya. karena hal2 semacam itulah yang membuatku enggan untuk menghbunginya. dan membuatku betah dengan status yang tidak bisa di tuliskan.
namun aku wanita tetaplah wanita, yang selalu ingin mendapat kasih sayang dari seseorang yang di sayangnya. yang ku anggap kekasih tapi tak pernah ku genggam erat. yaaa... aku memang menganggap dia adalah kekasihku, namun aku tak mau jika ada yang mersa tersakiti karena aku dengannya. entahlah ini yang di namakan bodoh atau sok, tapi aku lebih memilih untuk melepaskannya, daripada aku di benci oleh wanita. karena aku juga wanita.
panjang sekali obrolan aku dan dia di senja itu. akhirnya aku memaki hebat. aku mengungkapkan semua yang aku benci, yang selama ini tak ada orang yang mengetahuinya di balik keceriaan dan senyuman di hari-hariku. bahwa aku memendam luka, luka yang ku buat sendiri. aku menangis tersedu-sedu. itulah kali pertamanya aku berani mengungkapkan kepadanya langsung.
"tolong, to the point aja kalau ngomong, jangan menyuruhku untuk menafsirkan seniri kata2mu. setiap tafsiran orang itu beda-beda."
" maksudmu menyuruhku untuk kuliah sungguh-sungguh itu tidak lain adalah kata-katamu memutuskanku?" "iya"
................................................
aku bersyukur menjadi seorang gadis yang mapu menangkap intisari dari omongan orang. dia memang selalu seperti itu. "tolong buat aku untuk tidak mencintaimu. kenapa aku seperi ini sama kamu? kamu tidak peduli sama akupun aku masih tetap menyayangimu. aku benci kenapa kamu yang menjadi mayoritas di dalam pikiranku??? kenpa tidak orangtuaku. aku benci hal ini. aku sayang sama orangtuaku, tapi kenapa aku masih memprioritaskan dirimu??? tolong katakan bahwa kamu tidak pernah mencintaiku?? buatlah aku sadar dengan sikap2mu yang menunjukkan kamu tidak mencintaiku. kamu tidak peduli dengan apa yang terjadi pada ku. tolong wake me up!!!! katakan kalau kamu tidak menyukaiku. kamu tidak mencintaiku!!!!! tolong katakan sekarang!!!!!" atap genteng memanas mendengar apa yang aku katakan. sinar surya mulai meninggi. bercampur sudah rasanya. sedih, marah, malu menjdi satu.
sementara suara di seberang hanya terdengar isak tangis. "aku tidak bisa mengatakannya, itu sakit bagiku, karena aku mencintaimu. aku tak bisa." terus saja ku paksa dia untuk mengatakannya, karena aku tidak mau mengulangi hal2 yang aku merasa tersakiti. biarkanlah ini menjadi pelajaran di hidupku. akhirnya dia mengatakannya. " kalaupun ini memang maumu, aku tidak mencintaimu!!! aku tidak pernah mencintaimu!!!"
aku menjerit mendengarnya, meskipun itu memang yang aku mau. ku teruskan tangisanku, begitupun suara di seberang. aku dan dia saling diam, tak lama kemudian, aku panggil namanya. aku minta maaf. batinku mengatakan, "aku harus ingat, apakah dia mahrommu??? kenapa kamu merelakan tetesan airmatamu jatuh untuknya?? sebesar itukah cinta yang kamu miliki untuknya?? bagaimana untuk orangtuamu????" aku berusaha tegar pagi itu.
entah sampai kapan, sampai sat ini aku masih menyimpan kenangan itu.
sekarang yang ada hanyalah aku dan dia. tidak akan pernah ada kita lagi di antara kita. aku terus berusaha dan berusaha,, berfikir tegas,.!!! masadepanku belum tentu dia,,
bangkit dan berfikir positif. dan aku benci harus menulis cerita galau....
hahahhahahaaaaaaaa.......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar