Hari ini aku benar-benar sadar, bahwa tak seorangpun yang patut aku prioritaskan kecuali orangtuaku sendiri. Ayahku adalah sosok pekerja keras. Begitupun juga ibuku. Bagaimana mungkin kamu menjadi prioritasku daripada mereka???? Sungguh berdosalah aku jika memprioritaskan dirimu.
Yahhh... Kami memang keluarga sederhana. Namun kami memiliki berjuta kasih sayang. Hati ibuku yang lembut. Ayahku yang penyayang, walau tak pernah di ucapkannya secara langsung. Tapi aku yakin ayahku adalah seorang penyayang. Beruntunglah aku terlahir dari orangtua seperti mereka.
Yahhh.... Aku adalah satu-satunya anak perempuannya. Mereka membanggakan aku. Apa yg aku mau pasti mereka kabulkan. Mereka begitu memanjakan aku. Setiap hari ulangtahunku, mereka tak pernah melupakannya. Mereka memberi sesuatu yang spesial dengan caranya sendiri. Mereka memberiku pendidikan sesuai dengan apa yang aku mau, walau entah dengan cara apasaja yg akan di lakukannya. Asal itu halal. Mereka bekerja keras untuk aku dan saudaraku tentunya. Aku mempunyai 2 saudara laki-laki. Kakan n adik.
Musim penghujan telah tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya setiap sore,Malang pasti di guyur hujan, saat mendengar ayahku mau datang menengokku, berbagai pikiran yang melintasi pikiranku. Yang pertamaKhawatir ayahku bakal kehujanan karena kota asalku dan malang sangatlah jauh, membutuhkan waktu 9 jam (normal) bisa 12 jam juga jika tetjadi macet dan sebagainy. Kedua, jam satu ada kuliah sampai jam tiga. Rasanya tak mau meninggalkan mata kuliah satu ini.
Akhirnya aku putuskan untuk tetap menjemput ayahku. Bagaimanapun juga ayahku datang jauh2 dari rumah dan aku harus memayoritaskan perjuangannya. Jam dua aku berangkat ke terminal menjemput ayah, saya takut kalau menunggu terlalu lama. Tapi sampai di terminal aku lihat soaok ayah yang ku kagumi duduk di kursi dan tampak wajah letih. Dari jarak tiga meter aku tersenyum berlari dan mencium beliau. Sadar jika hari ini adalah hari ayah. "Happy father's day" entah faham atau tidak aku berkata seperti itu. Rasa haru, seneng, dan rasa kangen yang mendalam. Rasa bersalah juga menyelimuti kalbuku. Bercerita banyak panjang lebar, ternyata ayahku sampai jam duabelas. Sungguh ini Ridho Allah untuk menyadarkanku. Bahwa orangtua lah yg terpenting. Dan ternyata dosenku juga tak hadir sehingga aku tidak bolos juga. Ayah I love you. Pahlawanku dalam diam. Rasanya pengen nangis ketika jam 4 sudah ayahku mau balik ke kota asal. Betapa capeknya pasti ayahku. Itulah perjuangannya. Tak kuasa menahan berbagai rasa aku benar-benar menangis
Selamat hari ayah, pahlawanku,pejuangku.
Terimakasih telah membangunkanku.
Kalianlah prioritasku. I love you. i love you. I love youuuu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar